JIAT Yamdena Rampung di 13 Titik, Petani Perbatasan RI-Australia Berpeluang Panen Tiga Kali Setahun

0
IMG-20260723-WA0064

MALUKU — Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Wilayah Sungai Maluku menyelesaikan pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di 13 titik di Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku. Kehadiran infrastruktur tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan di wilayah terluar Indonesia yang berada di kawasan perbatasan dengan Australia.

Pembangunan JIAT menjadi salah satu upaya mengatasi keterbatasan ketersediaan air yang selama ini menjadi tantangan bagi masyarakat petani di Pulau Yamdena. Ketergantungan terhadap curah hujan membuat sebagian petani hanya dapat mengolah lahan dan melakukan panen pada periode tertentu dalam setahun.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan pembangunan JIAT merupakan langkah strategis untuk menjamin ketersediaan air bagi sektor pertanian, terutama ketika menghadapi musim kemarau dan dampak fenomena iklim seperti El Nino.

“Melalui JIAT ini, kita ingin memastikan ketersediaan air sehingga produktivitas pertanian meningkat dan ketahanan pangan semakin kuat,” ujar Dody.

Proyek JIAT di Pulau Yamdena dilaksanakan PT Hutama Karya dengan menggunakan dana APBN Tahun Anggaran 2025 senilai Rp24,4 miliar.

Pembangunan tersebut mencakup 13 unit rumah pompa, 13 pompa submersible berbasis panel surya, 26 menara air, 13 sumur bor, serta jaringan perpipaan High Density Polyethylene (HDPE) sepanjang 10.800 meter.

Sistem irigasi tersebut memanfaatkan energi surya untuk mengoperasikan pompa yang mengangkat air dari sumur bor dengan kedalaman sekitar 50 hingga 60 meter. Air kemudian ditampung di menara air sebelum dialirkan menuju lahan pertanian melalui jaringan pipa dengan memanfaatkan sistem gravitasi.

Kehadiran infrastruktur ini mulai memberikan manfaat bagi petani di sejumlah lokasi, termasuk Desa Latdalam. Wilayah tersebut menjadi salah satu lokasi pembangunan JIAT dengan cakupan layanan lahan pertanian sekitar 108 hektare dan jaringan irigasi sepanjang 10,8 kilometer.

Sebelum adanya jaringan irigasi air tanah, sebagian petani di Desa Latdalam mengandalkan musim hujan untuk memenuhi kebutuhan air pertanian. Kondisi tersebut membuat produktivitas lahan sangat bergantung pada kondisi cuaca.

Anggota Kelompok Tani Desa Latdalam, Curcil B Watumlawar, mengatakan keberadaan sumur bor dan jaringan irigasi memberikan harapan baru bagi petani untuk meningkatkan intensitas tanam dan panen.

“Dengan adanya air dan sumur bor ini, kami selaku petani akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa melaksanakan panen dalam satu tahun bisa tiga kali panen,” ujarnya.

Pembangunan JIAT di Pulau Yamdena merupakan bagian dari pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 Tahap III yang diarahkan untuk mendukung penguatan ketahanan pangan nasional dan pencapaian swasembada pangan.

Secara keseluruhan, pembangunan JIAT di Kabupaten Kepulauan Tanimbar mencakup 39 titik sumur bor. Sebanyak 26 titik berada di Pulau Selaru dan 13 titik lainnya berada di Pulau Yamdena. Infrastruktur tersebut ditargetkan dapat mendukung pengairan lahan pertanian dengan total cakupan sekitar 468 hektare.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo juga menekankan bahwa pembangunan jaringan irigasi air tanah tidak cukup hanya dengan menyediakan sumur dan pompa. Sistem tersebut perlu didukung jaringan distribusi yang memadai agar air dapat dialirkan secara efektif hingga ke lahan pertanian.

Karena itu, pengembangan jaringan saluran tersier perlu disesuaikan dengan kondisi morfologi wilayah dan karakteristik lahan. Langkah tersebut diperlukan agar distribusi air dapat berlangsung optimal dan manfaat infrastruktur benar-benar dirasakan oleh para petani.

Bagi masyarakat di Pulau Yamdena, pembangunan JIAT menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan produktivitas pertanian di wilayah yang selama ini menghadapi keterbatasan akses air.

Dengan ketersediaan air yang lebih terjamin, petani memiliki peluang untuk meningkatkan intensitas budidaya pertanian dan tidak sepenuhnya bergantung pada musim hujan. Potensi peningkatan frekuensi panen hingga tiga kali dalam setahun diharapkan dapat berdampak terhadap pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

Pembangunan infrastruktur irigasi di wilayah perbatasan juga memiliki arti strategis dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Infrastruktur dasar yang mendukung aktivitas pertanian menjadi salah satu fondasi penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat kemandirian pangan.

Penyelesaian JIAT di 13 titik Pulau Yamdena menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur air dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat di wilayah terluar Indonesia. Dari sebelumnya menghadapi keterbatasan air dan bergantung pada musim hujan, petani kini memiliki dukungan infrastruktur yang membuka peluang untuk meningkatkan produktivitas lahan.

Dengan pengelolaan dan pemeliharaan yang berkelanjutan, keberadaan JIAT diharapkan mampu mendukung aktivitas pertanian masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Kepulauan Tanimbar. Pembangunan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menghadirkan infrastruktur yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dari berbagai wilayah Indonesia, termasuk kawasan perbatasan.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *