PDIP Bantah Keterkaitan dengan Fortuner yang Ditumpangi Tiyo Ardianto: “Jangan Bangun Opini dari Cocoklogi”
JAKARTA – Polemik mengenai mobil Toyota Fortuner yang ditumpangi mantan Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, terus menjadi perbincangan publik. Namun, PDI Perjuangan (PDIP) membantah keras tudingan yang mengaitkan kendaraan tersebut dengan keluarga mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Andika Perkasa maupun dengan partai berlambang banteng itu.
Juru Bicara PDIP, Guntur Romli, menegaskan bahwa narasi yang berkembang terkait kepemilikan kendaraan tersebut tidak didasarkan pada fakta yang kuat dan lebih merupakan bentuk “cocoklogi” politik daripada hasil verifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pernyataan itu disampaikan sebagai respons atas konferensi pers Aliansi BEM Fakultas Bersatu yang menduga adanya keterlibatan aktor politik praktis di balik sejumlah aksi mahasiswa yang dipimpin Tiyo Ardianto. Salah satu dasar dugaan tersebut adalah penggunaan mobil Toyota Fortuner yang disebut-sebut memiliki keterkaitan dengan keluarga tokoh yang pernah terlibat dalam Tim Pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024.
Menurut Guntur, kendaraan yang digunakan Tiyo bukanlah milik pihak yang dituduhkan sebagaimana berkembang di ruang publik. Ia menyebut mobil tersebut merupakan kendaraan pinjaman dan menilai upaya menghubungkan kepemilikan kendaraan dengan afiliasi politik tertentu sebagai logika yang dipaksakan.
“Hubungan keluarga tidak otomatis menunjukkan kesamaan pilihan politik. Adik dan kakak belum tentu memiliki sikap politik yang sama, demikian pula hubungan besanan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Guntur juga membantah bahwa nama-nama yang disebut dalam dugaan tersebut merupakan bagian dari struktur atau kader PDIP. Ia menegaskan bahwa individu yang dikaitkan dengan kepemilikan kendaraan tersebut bukan pengurus maupun kader partai.
BEM Bersatu Ungkap Dugaan Keterkaitan Politik
Di sisi lain, Aliansi BEM Fakultas Bersatu menyatakan bahwa mereka menemukan sejumlah indikasi yang menurut mereka layak menjadi perhatian publik. Dalam konferensi pers di Jakarta, perwakilan aliansi tersebut menyebut adanya dugaan keterhubungan antara Tiyo Ardianto dengan sejumlah tokoh yang selama ini dikenal memiliki kedekatan dengan kelompok politik tertentu.
Namun demikian, hingga saat ini belum terdapat bukti resmi yang dipublikasikan kepada masyarakat yang dapat membuktikan secara langsung adanya hubungan organisatoris maupun pendanaan politik antara aksi mahasiswa yang dipimpin Tiyo Ardianto dengan partai politik tertentu.
Publik Diminta Utamakan Fakta
Pengamat komunikasi politik menilai bahwa dalam iklim demokrasi yang sehat, setiap tuduhan yang berpotensi mempengaruhi persepsi publik harus didasarkan pada bukti yang dapat diverifikasi. Spekulasi mengenai hubungan politik seseorang melalui relasi keluarga, pertemanan, maupun kepemilikan kendaraan perlu diuji secara objektif sebelum dijadikan dasar kesimpulan.
Prinsip verifikasi tetap menjadi fondasi utama dalam demokrasi dan kebebasan berpendapat. Karena itu, publik diharapkan lebih mengedepankan data, dokumen, serta fakta yang dapat dipertanggungjawabkan dibanding asumsi atau narasi yang belum terkonfirmasi.
Sampai berita ini diturunkan, belum terdapat bukti resmi yang menunjukkan bahwa kendaraan yang digunakan Tiyo Ardianto merupakan milik keluarga Andika Perkasa ataupun memiliki keterkaitan langsung dengan PDIP sebagaimana tudingan yang beredar. Sementara itu, PDIP secara terbuka telah membantah seluruh tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk “cocoklogi” politik.
