Hamas Resmi Pilih Khalil al-Hayya sebagai Pemimpin Baru, Gantikan Yahya Sinwar
GAZA — Hamas resmi mengumumkan Khalil al-Hayya sebagai kepala biro politik baru, menggantikan Yahya Sinwar yang tewas dalam operasi militer Israel di Jalur Gaza pada Oktober 2024.
Pengumuman tersebut disampaikan pada Senin (20/7), setelah proses pemilihan internal yang berlangsung selama berbulan-bulan dan melibatkan struktur kepemimpinan Hamas dari berbagai wilayah.
Al-Hayya, 65 tahun, merupakan salah satu tokoh senior Hamas. Ia lahir di Kota Gaza pada 1960 dan menjadi bagian dari gerakan tersebut sejak Hamas berdiri pada 1987.
Ia menempuh pendidikan di bidang studi Islam, meraih gelar sarjana dari Universitas Islam Gaza, gelar master dari Universitas Yordania, serta gelar doktor dalam bidang ilmu hadis dari Sudan.
Sebelum dipercaya memimpin biro politik Hamas, Al-Hayya menjabat sebagai wakil pemimpin Hamas di Gaza. Ia juga dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam delegasi Hamas yang terlibat dalam perundingan gencatan senjata tidak langsung dengan Israel.
Al-Hayya Menang Tipis dalam Pemilihan Internal
Proses pemilihan pemimpin baru Hamas berlangsung dalam dua putaran yang berlangsung ketat.
Pada putaran pertama, mantan kepala biro politik Hamas Khaled Meshaal memperoleh suara terbanyak. Namun, ia tidak berhasil mencapai ambang batas 36 suara dari total 69 anggota Dewan Syura yang dibutuhkan untuk memenangkan pemilihan.
Pemilihan kemudian dilanjutkan ke putaran kedua. Dalam pemungutan suara tersebut, Al-Hayya memenangkan persaingan dengan selisih hanya satu suara, yakni 35 suara berbanding 34 untuk Meshaal.
Proses pemilihan melibatkan perwakilan dari berbagai wilayah dan kelompok dalam struktur Hamas, termasuk Tepi Barat, Jalur Gaza, para tahanan Palestina di penjara Israel, serta komunitas diaspora Palestina di luar negeri.
Hasil tersebut menunjukkan ketatnya persaingan internal sekaligus memperlihatkan adanya perbedaan pandangan mengenai arah strategis Hamas setelah konflik panjang di Gaza.
Dua Arah Strategis dalam Kepemimpinan Hamas
Pemilihan Al-Hayya dinilai mencerminkan perdebatan strategis di dalam tubuh Hamas mengenai masa depan gerakan tersebut.
Khaled Meshaal, yang pernah memimpin biro politik Hamas selama bertahun-tahun dari luar wilayah Palestina, dipandang mewakili kelompok yang lebih berpengalaman dalam politik regional dan diplomasi internasional.
Sementara itu, Al-Hayya memiliki kedekatan lebih kuat dengan kepemimpinan Hamas di Gaza dan dianggap sebagai figur yang memahami langsung dampak konflik terhadap struktur organisasi serta masyarakat Palestina di wilayah tersebut.
Pendukung Al-Hayya menilai kepemimpinan dari Gaza memiliki legitimasi kuat untuk menentukan arah masa depan Hamas, terutama setelah perang panjang yang telah mengubah kondisi politik dan keamanan di kawasan.
Al-Hayya juga dikenal mempertahankan sikap tegas terhadap isu perlucutan senjata Hamas dan masa depan perjuangan Palestina.
Berperan dalam Diplomasi dan Negosiasi Gencatan Senjata
Al-Hayya selama ini memainkan peran penting dalam jalur diplomasi Hamas.
Ia memimpin delegasi Hamas dalam sejumlah perundingan gencatan senjata yang dimediasi oleh Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat.
Al-Hayya juga diketahui beroperasi dari Doha, Qatar, tempat kantor politik Hamas berada, sejak sebelum konflik besar pecah pada Oktober 2023.
Sepanjang kiprahnya, Al-Hayya dilaporkan telah menjadi sasaran sejumlah upaya pembunuhan Israel. Salah satu serangan terjadi di Doha pada September 2025 dan menewaskan sejumlah anggota Hamas, termasuk salah satu putranya.
Beberapa anggota keluarganya juga dilaporkan tewas dalam berbagai serangan Israel selama bertahun-tahun.
Hamas Hadapi Tekanan Berat Setelah Perang Gaza
Pemilihan Al-Hayya berlangsung ketika Hamas menghadapi salah satu periode paling berat dalam sejarah organisasinya.
Perang Gaza telah menyebabkan kerusakan besar terhadap wilayah tersebut dan memberikan tekanan berat terhadap struktur militer maupun politik Hamas.
Sejumlah tokoh senior Hamas tewas dalam konflik, sementara struktur pemerintahan dan organisasi di Gaza mengalami perubahan besar akibat perang berkepanjangan.
Jabatan kepala biro politik Hamas juga sempat mengalami kekosongan setelah kematian Yahya Sinwar pada 2024.
Di tengah kondisi tersebut, Al-Hayya kini menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan struktur organisasi sekaligus menentukan arah politik Hamas ke depan.
Gencatan Senjata dan Masa Depan Konflik Palestina
Hamas dan Israel sebelumnya mencapai kesepakatan gencatan senjata pada Oktober 2025. Namun, implementasi penuh kesepakatan tersebut masih menghadapi berbagai persoalan.
Hamas menolak menyerahkan senjata tanpa adanya jaminan politik mengenai masa depan Palestina, termasuk hak menentukan nasib sendiri dan pembentukan negara Palestina.
Kelompok tersebut juga menolak sejumlah proposal yang dianggap lebih mengutamakan demiliterisasi dibandingkan proses rekonstruksi dan penyelesaian politik jangka panjang.
Sementara itu, Israel belum memberikan tanggapan resmi mengenai penunjukan Al-Hayya sebagai kepala biro politik Hamas. Sejumlah pengamat Israel menilai Al-Hayya sebagai figur yang memiliki sikap tegas terhadap Israel.
Dengan masa jabatan kepengurusan saat ini yang berlangsung hingga 2027, Al-Hayya akan memimpin Hamas dalam periode yang sangat menentukan.
Penunjukannya membuka babak baru dalam kepemimpinan organisasi tersebut, sekaligus menempatkan Al-Hayya di tengah tantangan besar berupa konflik yang belum sepenuhnya berakhir, tekanan diplomatik internasional, serta masa depan politik Palestina yang masih belum menemukan kepastian.
Kepemimpinan baru Hamas akan menjadi salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi arah negosiasi gencatan senjata, hubungan dengan negara-negara mediator, serta dinamika konflik Palestina-Israel dalam beberapa tahun mendatang.
