Orang Pintar yang Jahat Lebih Berbahaya dari Orang Bodoh: Membaca Ulang Gagasan Najwa Shihab dan Rizkan Al-Mubarok

0
file_000000002f04720bb70716f760ab5f98

RAKYAT CERDAS — Perdebatan mengenai mana yang lebih berbahaya antara kebodohan dan kejahatan kembali menarik perhatian dalam ruang publik. Dalam sebuah pernyataan yang beredar luas di media sosial, Najwa Shihab dikaitkan dengan pandangan bahwa orang bodoh dapat lebih berbahaya daripada orang jahat. Pernyataan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah ancaman terbesar bagi manusia benar-benar berasal dari kebodohan, atau justru dari kecerdasan yang kehilangan moral dan digunakan untuk melakukan kejahatan?

Pertanyaan tersebut menjadi titik berangkat pemikiran Rizkan Al-Mubarok, Ketua Aliansi Wartawan Nasional Indonesia (AWNI) Sumatera. Ia menawarkan sudut pandang berbeda bahwa orang pintar yang jahat dapat menjadi ancaman yang jauh lebih besar ketika ilmu, teknologi, kekuasaan, dan kecerdasan digunakan tanpa adab dan tanggung jawab kemanusiaan.

Bagi Rizkan, persoalannya bukan sekadar siapa yang lebih pintar atau lebih bodoh. Persoalan paling mendasar adalah untuk apa kecerdasan itu digunakan.

Orang yang kurang pengetahuan masih memiliki kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri. Sebaliknya, seseorang yang memiliki kecerdasan tinggi tetapi menggunakan pengetahuannya untuk menipu, mengeksploitasi, menindas, atau menghancurkan kehidupan manusia dapat menciptakan kerusakan yang jauh lebih luas.

Di sinilah perdebatan tersebut menjadi relevan untuk melihat sejarah peradaban manusia.

Ketika Ilmu Tidak Disertai Moral

Sejarah menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki dua sisi. Di satu sisi, ilmu telah menyelamatkan jutaan manusia melalui kemajuan kedokteran, teknologi, komunikasi, dan energi. Namun di sisi lain, pengetahuan yang sama dapat disalahgunakan untuk kepentingan perang dan penghancuran.

Pengembangan senjata nuklir menjadi salah satu contoh paling ekstrem. Teknologi tersebut lahir dari pencapaian ilmiah yang luar biasa, tetapi penggunaannya dalam Perang Dunia II membawa tragedi kemanusiaan di Hiroshima dan Nagasaki.

Peristiwa tersebut menjadi pelajaran penting bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis berarti kemajuan moral.

Sebuah bangsa dapat memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi, tetapi jika kekuasaan dan teknologi tidak dikendalikan oleh etika, hasilnya dapat menjadi bencana.

Hal yang sama dapat dilihat dalam persoalan lingkungan. Kemampuan manusia mengeksploitasi sumber daya alam semakin maju. Teknologi memungkinkan manusia mengeruk mineral, minyak, batu bara, dan berbagai kekayaan bumi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Namun ketika eksploitasi dilakukan tanpa memperhatikan keberlanjutan dan hak masyarakat, kemajuan teknologi justru dapat meninggalkan kerusakan ekologis, pencemaran air, hilangnya hutan, serta kesenjangan ekonomi.

Karena itu, persoalan utama bukan terletak pada ilmu pengetahuan itu sendiri, melainkan pada moral orang yang mengendalikan ilmu tersebut.

Dari Kebodohan Menuju Manipulasi

Pada titik ini, pandangan tentang bahaya kebodohan juga memiliki relevansinya sendiri.

Masyarakat yang minim literasi dapat lebih mudah terpengaruh oleh propaganda, informasi palsu, dan manipulasi. Dalam demokrasi, rendahnya kemampuan masyarakat untuk memeriksa informasi dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan politik atau ekonomi.

Namun, kondisi tersebut menghadirkan sebuah pertanyaan penting: siapa yang memanfaatkan kebodohan tersebut?

Di sinilah dua pandangan tersebut sebenarnya dapat dipertemukan.

Kebodohan dapat menjadi kelemahan masyarakat. Tetapi kecerdasan yang disalahgunakan dapat menjadi kekuatan yang mengeksploitasi kelemahan tersebut.

Dengan kata lain, kebodohan mungkin membuka pintu, tetapi kecerdasan tanpa moral dapat menjadi pihak yang masuk melalui pintu tersebut untuk mengambil keuntungan.

Karena itu, perdebatan antara kebodohan dan kejahatan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang lebih berbahaya. Yang lebih penting adalah bagaimana membangun masyarakat yang memiliki ilmu sekaligus akhlak, kecerdasan sekaligus tanggung jawab, serta keberanian untuk melawan kezaliman tanpa kehilangan kemanusiaan.

Zionisme dan Kritik terhadap Kekuasaan

Dalam konteks geopolitik, Rizkan juga menyoroti persoalan Zionisme dan konflik Palestina. Kritik terhadap Zionisme, sebagai gerakan politik yang memiliki sejarah dan agenda tertentu, merupakan bagian dari perdebatan internasional mengenai pendudukan, hak bangsa Palestina, dan konflik Timur Tengah.

Namun, kritik tersebut harus dibedakan secara tegas dari kebencian terhadap orang Yahudi sebagai kelompok agama atau etnis.

Dalam pandangan Rizkan, persoalan yang harus dikritik bukan identitas seseorang berdasarkan agama atau keturunannya, melainkan setiap bentuk kekuasaan yang menggunakan ilmu, teknologi, ekonomi, atau kekuatan militer untuk melakukan penindasan dan merampas hak manusia.

Prinsip tersebut bersifat universal.

Jika sebuah negara, kelompok, perusahaan, atau individu melakukan kezaliman, maka yang harus dikritik adalah tindakan dan kebijakannya—bukan identitas etnis atau agamanya.

Perspektif ini juga penting dalam memahami pesan Al-Qur’an tentang larangan membuat kerusakan di muka bumi. Dalam QS Al-Baqarah ayat 11–12, Al-Qur’an menggambarkan orang-orang yang ketika diminta untuk tidak membuat kerusakan justru mengklaim diri sebagai pihak yang melakukan perbaikan.

Pesan moral dari ayat tersebut dapat dibaca sebagai peringatan universal: manusia tidak boleh menggunakan kekuasaan dan kemampuan yang dimilikinya untuk membenarkan tindakan yang merusak kehidupan.

Karena itu, ayat tersebut tidak semestinya digunakan untuk menggeneralisasi seluruh kelompok berdasarkan agama atau etnis, tetapi untuk mengingatkan manusia terhadap perilaku zalim dan perusakan.

Adab Lebih Tinggi daripada Ilmu

Dalam perspektif Islam, ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Namun ilmu tidak berdiri sendiri. Ia harus berjalan bersama iman, akhlak, dan tanggung jawab.

Rasulullah Muhammad SAW memberikan teladan bagaimana menghadapi orang yang belum memahami sesuatu dengan kesabaran dan pendidikan. Orang yang belum mengetahui masih memiliki kesempatan untuk belajar.

Sebaliknya, orang yang mengetahui kebenaran tetapi dengan sengaja menggunakan ilmunya untuk merugikan orang lain menghadapi persoalan moral yang jauh lebih serius.

Karena itu, gagasan “adab lebih tinggi daripada ilmu” memiliki relevansi yang sangat kuat dalam kehidupan modern.

Kecerdasan tanpa moral dapat melahirkan manipulasi.

Teknologi tanpa tanggung jawab dapat melahirkan kehancuran.

Kekuasaan tanpa keadilan dapat melahirkan penindasan.

Dan ilmu tanpa adab dapat berubah dari cahaya menjadi alat kezaliman.

Najwa Shihab dan Rizkan Al-Mubarok: Dua Perspektif yang Berbeda

Jika pandangan yang dikaitkan dengan Najwa Shihab ditempatkan pada konteks bahaya kebodohan dalam kehidupan sosial, maka pemikiran Rizkan Al-Mubarok menyoroti sisi lain yang tidak kalah penting: bahaya ketika kecerdasan dan kekuasaan berada di tangan orang yang kehilangan moral.

Keduanya sebenarnya dapat dibaca sebagai dua sisi dari persoalan yang sama.

Kebodohan dapat membuat manusia mudah dimanipulasi.

Namun, orang yang memiliki kecerdasan tetapi kehilangan moral dapat menjadi pihak yang melakukan manipulasi tersebut.

Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan semata-mata apakah orang bodoh lebih berbahaya daripada orang jahat.

Pertanyaan yang lebih fundamental adalah:

Apa yang terjadi ketika orang pintar memilih menjadi jahat?

Jawabannya dapat ditemukan dalam sejarah. Perang besar, senjata pemusnah massal, eksploitasi sumber daya alam, korupsi sistemik, dan berbagai bentuk penindasan modern sering kali membutuhkan perencanaan, organisasi, teknologi, dan kecerdasan yang tinggi.

Inilah alasan mengapa Rizkan menilai kecerdasan yang tidak dikawal adab dapat menjadi salah satu ancaman terbesar bagi peradaban.

Pada akhirnya, manusia tidak membutuhkan pertentangan antara ilmu dan moral. Dunia justru membutuhkan keduanya berjalan bersama.

Kebodohan harus dilawan dengan pendidikan.

Kezaliman harus dilawan dengan keadilan.

Keserakahan harus dilawan dengan tanggung jawab.

Dan kecerdasan harus dikawal oleh adab.

Jika Najwa Shihab mengingatkan publik tentang bahaya kebodohan, maka Rizkan Al-Mubarok mengingatkan tentang bahaya lain yang tak kalah serius: orang pintar yang menggunakan kecerdasannya untuk melakukan kejahatan.

Sebab, sejarah telah memberikan pelajaran yang sangat mahal: ilmu dapat membangun peradaban, tetapi ilmu tanpa moral juga dapat menghancurkannya.

Maka, ukuran tertinggi manusia bukanlah seberapa tinggi kecerdasannya, seberapa besar kekuasaannya, atau seberapa banyak hartanya.

Ukuran yang jauh lebih penting adalah untuk apa semua kemampuan itu digunakan.

Di situlah adab, iman, dan kemanusiaan menjadi penentu terakhir apakah ilmu akan menjadi cahaya yang menerangi dunia atau justru menjadi alat yang memperbesar kerusakan di muka bumi.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *