IMO Evakuasi 2.500 Pelaut dari Selat Hormuz, Operasi Dihentikan Sementara Usai Serangan di Teluk Oman

0
IMG-20260627-WA0081

JAKARTA – Organisasi Maritim Internasional (IMO) berhasil mengevakuasi sekitar 2.500 pelaut dari 115 kapal yang terjebak di kawasan Selat Hormuz sejak dimulainya operasi penyelamatan pada 23 Juni 2026. Namun, operasi kemanusiaan tersebut terpaksa dihentikan sementara setelah sebuah kapal kontainer menjadi sasaran serangan drone di Teluk Oman.

Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez menjelaskan, evakuasi tersebut merupakan bagian dari misi besar untuk menyelamatkan sekitar 11.000 pelaut yang berada di atas sekitar 600 kapal yang masih tertahan di kawasan perairan strategis tersebut.

Selat Hormuz telah menjadi pusat krisis maritim internasional setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran menyebabkan jalur pelayaran itu praktis tidak dapat dilalui selama beberapa bulan terakhir. Jalur ini merupakan salah satu rute perdagangan energi terpenting di dunia karena dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global setiap harinya.

Menurut IMO, hingga kini sedikitnya 14 pelaut dilaporkan meninggal dunia akibat berbagai serangan terhadap kapal-kapal sipil sejak krisis berlangsung.

Dua Jalur Evakuasi Disiapkan

Untuk menjamin keselamatan pelayaran, IMO menetapkan dua koridor pelayaran sementara.

Koridor pertama berada di jalur utara dekat pesisir Iran, sedangkan koridor kedua melewati perairan Oman dan Uni Emirat Arab. Seluruh kapal diwajibkan mengikuti jadwal keberangkatan yang telah ditentukan dan mematuhi instruksi keselamatan dari negara-negara pesisir.

IMO juga mengingatkan bahwa setiap kapal dapat dihentikan sewaktu-waktu apabila terdapat pertimbangan keselamatan maupun kebutuhan dekonflik militer.

Selain itu, para nakhoda diminta tetap berada di posisi masing-masing hingga memperoleh izin resmi untuk bergerak mengingat masih terdapat ancaman ranjau laut maupun risiko keamanan lainnya.

Serangan Drone Hentikan Operasi

Operasi evakuasi terpaksa dihentikan sementara setelah kapal kontainer berbendera Singapura Ever Lovely diserang drone di perairan Teluk Oman.

Serangan tersebut mengakibatkan kerusakan pada bagian anjungan kapal, namun tidak menimbulkan korban jiwa.

Menurut IMO, kapal tersebut berlayar secara mandiri di luar skema evakuasi resmi.

Arsenio Dominguez mengatakan pihaknya kini berkoordinasi dengan Oman, Iran, dan Amerika Serikat guna memperoleh kembali jaminan keamanan sebelum operasi dilanjutkan.

“Begitu jaminan keamanan kembali diberikan, proses evakuasi akan segera dilanjutkan,” ujarnya.

Lebih dari 500 Kapal Masih Menunggu

Meski ribuan pelaut telah berhasil dievakuasi, IMO memperkirakan masih terdapat lebih dari 500 kapal yang menunggu giliran keluar dari kawasan Selat Hormuz.

Proses tersebut diperkirakan membutuhkan waktu beberapa pekan karena jalur pelayaran utama masih belum dapat digunakan sepenuhnya akibat keberadaan puluhan ranjau laut.

Dalam nota kesepahaman terbaru antara Iran dan Amerika Serikat, Iran berkomitmen membersihkan jalur pelayaran utama dalam waktu 30 hari sebagai bagian dari upaya memulihkan keamanan navigasi internasional.

Krisis Maritim Belum Berakhir

Dominguez menyambut baik berbagai langkah diplomatik yang mulai ditempuh guna meredakan ketegangan di kawasan.

Ia menilai terciptanya jaminan keamanan bagi kapal sipil menjadi syarat utama agar aktivitas perdagangan internasional dapat kembali berjalan normal.

Meski demikian, penghentian sementara operasi evakuasi menunjukkan bahwa situasi di Selat Hormuz masih sangat rentan terhadap eskalasi konflik.

Dengan ribuan pelaut yang masih terjebak serta ratusan kapal belum dapat meninggalkan kawasan, komunitas internasional kini terus memantau perkembangan situasi sambil mendorong terciptanya keamanan pelayaran di salah satu jalur perdagangan paling vital di dunia.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *