Trump Kutuk Serangan Drone Iran di Selat Hormuz: “Pelanggaran Bodoh” terhadap Gencatan Senjata

0
IMG-20260627-WA0080

WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengecam keras serangan drone yang diduga dilakukan Iran terhadap sebuah kapal kargo di kawasan Selat Hormuz, Kamis (25/6/2026). Trump menyebut insiden tersebut sebagai “pelanggaran bodoh” terhadap kesepakatan gencatan senjata yang baru saja disepakati antara Washington dan Teheran.

Melalui unggahan di platform Truth Social pada Jumat (26/6/2026), Trump menyatakan bahwa Iran meluncurkan sedikitnya empat drone bunuh diri (one-way attack drones) ke arah kapal-kapal komersial yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.

Menurut Trump, satu drone menghantam bagian atas sebuah kapal kargo berukuran besar sehingga menyebabkan kerusakan, sementara tiga drone lainnya berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan Amerika Serikat.

“Meskipun mengalami kerusakan, kapal tersebut masih dapat melanjutkan pelayarannya. Kami menembak jatuh tiga drone lainnya. Ini jelas merupakan pelanggaran bodoh terhadap Perjanjian Gencatan Senjata,” tulis Trump.

Meski tidak menyebut nama kapal secara langsung, pernyataan tersebut merujuk pada insiden yang menimpa kapal kontainer berbendera Singapura Ever Lovely di perairan Teluk Oman. Kapal dilaporkan mengalami kerusakan pada bagian anjungan setelah terkena proyektil di sisi kanan lambungnya, namun seluruh awak kapal dilaporkan selamat.

Gencatan Senjata Diuji

Serangan tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) berisi 14 poin yang bertujuan meredakan konflik sekaligus membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Dalam kesepakatan itu, Iran berkomitmen menjamin keselamatan pelayaran kapal-kapal komersial selama masa transisi. Namun, insiden terbaru dinilai menjadi ujian serius terhadap implementasi perjanjian tersebut.

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebelumnya juga telah memperingatkan bahwa kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz di luar jalur yang ditentukan otoritas Iran dapat dianggap membahayakan keamanan kawasan.

Evakuasi IMO Ditunda

Meningkatnya ketegangan di kawasan memaksa Organisasi Maritim Internasional (IMO) menghentikan sementara operasi evakuasi ratusan kapal yang masih terjebak di Selat Hormuz.

Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez mengatakan keputusan tersebut diambil demi menjamin keselamatan pelayaran setelah muncul ancaman baru terhadap kapal-kapal sipil.

Sebelum operasi dihentikan, IMO telah berhasil mengevakuasi sekitar 2.500 pelaut dari 115 kapal. Namun lebih dari 600 kapal dengan sekitar 11.000 pelaut masih menunggu proses evakuasi.

Selat Hormuz Tetap Menjadi Titik Rawan

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia karena menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak global setiap harinya. Setiap gangguan keamanan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi dan ekonomi dunia.

Para pengamat menilai insiden terbaru menunjukkan bahwa situasi keamanan di Timur Tengah masih sangat rapuh meskipun terdapat upaya diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran.

Dengan tertundanya operasi evakuasi serta meningkatnya risiko terhadap pelayaran internasional, komunitas global kini menaruh perhatian besar pada langkah lanjutan kedua negara dalam menjaga stabilitas kawasan dan memastikan keselamatan jalur perdagangan internasional.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *