Kapal Ever Lovely Diserang Drone di Selat Hormuz, IMO Tunda Evakuasi 11.000 Pelaut

0
IMG-20260627-WA0079

JAKARTA – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah kapal kontainer Ever Lovely diserang drone saat melintasi kawasan Selat Hormuz pada Kamis (25/6/2026). Insiden tersebut memaksa Organisasi Maritim Internasional (IMO) menghentikan sementara operasi evakuasi ribuan pelaut yang masih terjebak di jalur pelayaran strategis tersebut.

Kapal berbendera Singapura milik perusahaan pelayaran Taiwan Evergreen Marine itu dilaporkan mengalami kerusakan pada bagian anjungan setelah terkena proyektil di sisi kanan lambung kapal saat berada sekitar 7,5 mil laut di tenggara Pelabuhan Dahit, Oman. Meski mengalami kerusakan, tidak ada korban jiwa maupun awak kapal yang mengalami luka dalam insiden tersebut.

Laporan awal mengenai serangan diterima oleh United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO). Sejumlah perusahaan keamanan maritim kemudian mengidentifikasi kapal yang menjadi sasaran sebagai Ever Lovely, yang sebelumnya telah tertahan selama lebih dari tiga bulan akibat krisis keamanan di Selat Hormuz.

Sejumlah laporan media internasional menyebut aparat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran diduga berada di balik serangan tersebut. Beberapa pejabat Amerika Serikat yang dikutip media internasional menyatakan drone bunuh diri digunakan dalam serangan tersebut, meski hingga kini belum terdapat pengakuan resmi dari pemerintah Iran mengenai tuduhan tersebut.

Insiden itu terjadi hanya beberapa jam setelah otoritas Iran kembali memperingatkan kapal-kapal asing agar menggunakan jalur pelayaran yang telah ditetapkan pemerintah Iran. Menurut otoritas setempat, kapal yang melintas di luar rute resmi tidak akan memperoleh jaminan keselamatan maupun perlindungan asuransi.

Situasi tersebut memperburuk kondisi keamanan di salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Selat Hormuz diketahui menjadi lintasan sekitar 20 persen perdagangan minyak global sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut langsung berdampak terhadap stabilitas ekonomi internasional.

Akibat meningkatnya ancaman keamanan, IMO memutuskan menunda sementara operasi evakuasi sekitar 11.000 pelaut yang berada di lebih dari 600 kapal di kawasan Teluk Persia. Sebelum penghentian sementara dilakukan, IMO telah berhasil mengevakuasi sekitar 2.500 pelaut dari 115 kapal melalui jalur pelayaran yang telah disepakati.

Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, menyatakan penghentian operasi dilakukan demi memastikan keselamatan seluruh kapal dan awak sebelum proses evakuasi dilanjutkan. IMO kini terus berkoordinasi dengan negara-negara terkait untuk memperoleh jaminan keamanan bagi pelayaran sipil di kawasan tersebut.

Serangan terhadap Ever Lovely juga menjadi ujian bagi kesepahaman yang sebelumnya dibangun antara Amerika Serikat dan Iran mengenai keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Dalam kesepakatan tersebut, Iran berkomitmen memberikan jaminan keselamatan bagi kapal-kapal dagang yang melintas, sementara Amerika Serikat memberikan sejumlah pelonggaran terhadap aktivitas perdagangan tertentu.

Namun insiden terbaru menunjukkan bahwa kondisi keamanan di kawasan masih sangat rapuh. Pemerintah Amerika Serikat menyatakan tengah menyelidiki laporan serangan tersebut, sementara berbagai negara terus memantau perkembangan situasi mengingat pentingnya Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi energi dunia.

Pengamat maritim menilai serangan terhadap Ever Lovely menjadi pengingat bahwa stabilitas di Selat Hormuz masih menghadapi tantangan besar. Selain mengancam keselamatan pelayaran internasional, meningkatnya eskalasi keamanan juga berpotensi mengganggu rantai pasok global, memicu kenaikan harga energi, serta memperbesar risiko terhadap perdagangan internasional apabila situasi tidak segera mereda.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *