Shanghai dan Hong Kong Percepat Pembangunan Pusat Keuangan Lepas Pantai, Perkuat Posisi China di Kancah Keuangan Global
SHANGHAI – China mempercepat pembangunan pusat keuangan lepas pantai (offshore financial center) di Shanghai dan Hong Kong sebagai bagian dari strategi nasional untuk memperkuat posisi negara itu dalam sistem keuangan internasional sekaligus mendorong internasionalisasi mata uang yuan.
Langkah tersebut diumumkan dalam Forum Lujiazui 2026, ketika pemerintah China meluncurkan serangkaian kebijakan baru yang menandai dimulainya tahap implementasi penuh pengembangan sistem keuangan lepas pantai di Shanghai.
Kebijakan utama yang diperkenalkan adalah Rencana Aksi Pengembangan Keuangan Lepas Pantai Pusat Keuangan Internasional Shanghai, yang disusun oleh enam lembaga pemerintah, termasuk Bank Sentral China (People’s Bank of China).
Rencana tersebut menetapkan target bertahap, yakni pembentukan kerangka kelembagaan awal pada 2027, penyempurnaan sistem hukum dan keuangan pada 2030, serta menjadikan Shanghai sebagai pusat strategis yang mengintegrasikan pasar keuangan domestik (onshore) dan internasional (offshore) pada 2035.
Sebagai bagian dari implementasi, pemerintah memperluas reformasi keuangan di Zona Perdagangan Bebas Lin-gang dengan memberikan izin kepada sejumlah bank besar untuk menjalankan layanan keuangan lepas pantai.
Selain itu, Shanghai juga terus mengembangkan pasar obligasi perdagangan bebas, memperluas transaksi valuta asing yuan lepas pantai, serta membuka akses investasi melalui mekanisme akun keuangan khusus.
Shanghai dan Hong Kong Saling Melengkapi
Di tengah percepatan pembangunan tersebut, muncul pertanyaan mengenai potensi persaingan antara Shanghai dan Hong Kong sebagai pusat keuangan internasional.
Namun pemerintah China menegaskan kedua kota justru dirancang memiliki fungsi yang saling melengkapi.
Wakil Wali Kota Shanghai, Wu Wei, menyatakan pembangunan Shanghai dan Hong Kong sebagai pusat keuangan internasional merupakan bagian dari strategi nasional untuk memperkuat daya saing ekonomi China.
Sementara itu, Menteri Keuangan Hong Kong, Paul Chan, menegaskan kedua wilayah memiliki keunggulan yang berbeda sehingga dapat bekerja sama dalam memperluas peran yuan di pasar global.
Hong Kong tetap diposisikan sebagai pusat utama transaksi yuan lepas pantai dunia dengan sistem hukum common law dan arus modal yang terbuka, sedangkan Shanghai berfungsi sebagai penghubung antara pasar domestik China dengan pasar internasional.
Model kerja sama tersebut diharapkan mampu mendukung ekspansi global perusahaan-perusahaan China sekaligus memperluas penggunaan yuan dalam perdagangan internasional.
Fokus pada Stabilitas Keuangan
Pemerintah China juga menegaskan bahwa proses liberalisasi sektor keuangan akan tetap dilakukan secara hati-hati.
Shanghai menerapkan sistem pengamanan melalui pengawasan akun keuangan, pembatasan entitas, serta mekanisme isolasi transaksi guna menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menghindari risiko arus modal spekulatif sebagaimana pernah terjadi dalam krisis keuangan Asia pada akhir 1990-an.
Perkuat Posisi China di Sistem Keuangan Dunia
Penguatan pusat keuangan lepas pantai dinilai menjadi salah satu strategi utama China dalam menghadapi meningkatnya persaingan ekonomi global.
Dengan terus berkembangnya aset keuangan nasional dan meningkatnya penggunaan yuan dalam perdagangan internasional, Shanghai dan Hong Kong diproyeksikan menjadi dua pilar utama sistem keuangan China di tingkat global.
Analis menilai keberhasilan strategi tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara keterbukaan pasar dan stabilitas sektor keuangan domestik.
Apabila target jangka panjang berhasil dicapai, Shanghai dan Hong Kong diperkirakan akan memperkuat posisi Asia sebagai salah satu pusat keuangan dunia yang mampu bersaing dengan New York dan London dalam membentuk arsitektur keuangan global di masa depan.
