BSSN Hadiri Forum Keamanan Siber APAC di Bangkok, Bahas Ancaman Agentic AI dan Perkuat Kolaborasi Regional
BANGKOK — Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) berpartisipasi dalam Telecom Cybersecurity Seminar dan GSMA APAC Telecom Cybersecurity Forum 2026 yang digelar di Bangkok, Thailand, pada 15–16 Juli 2026.
Forum tahunan yang mengangkat tema “From Threats to Opportunities: Shared Intelligence for the AI and Agentic AI Era” tersebut mempertemukan para ahli, pemimpin industri, serta pemangku kepentingan keamanan siber dari sektor telekomunikasi di kawasan Asia Pasifik.
Kehadiran Indonesia dalam forum tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama regional dalam menghadapi perkembangan ancaman siber yang semakin kompleks, terutama seiring meningkatnya pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan Agentic AI.
Ancaman Agentic AI Jadi Perhatian
Forum yang berlangsung di The Athenee Hotel, Bangkok, membahas berbagai perkembangan ancaman dan tantangan keamanan siber yang dihadapi sektor telekomunikasi.
Salah satu perhatian utama adalah perkembangan Agentic AI, yaitu teknologi AI yang memiliki kemampuan menjalankan rangkaian tindakan secara lebih mandiri berdasarkan tujuan yang diberikan.
Dalam konteks keamanan siber, perkembangan teknologi tersebut dinilai dapat mengubah lanskap ancaman digital. Kemampuan otomatisasi yang semakin maju berpotensi dimanfaatkan untuk meningkatkan skala, kecepatan, dan presisi serangan siber.
Situasi tersebut mendorong perlunya penguatan sistem pertahanan siber yang mampu merespons ancaman secara cepat dan adaptif. Pemanfaatan AI untuk mendukung deteksi dan mitigasi ancaman juga menjadi salah satu aspek yang semakin penting dalam menghadapi dinamika tersebut.
Indonesia Perkuat Dialog Keamanan Siber Regional
Delegasi Indonesia berkesempatan mengikuti berbagai agenda strategis dalam forum tersebut, termasuk Industry Leaders’ Roundtable.
Forum diskusi tersebut menjadi ruang bagi para pemimpin industri untuk bertukar pandangan mengenai strategi menghadapi ancaman siber di tengah perkembangan AI dan teknologi digital yang semakin pesat.
Delegasi Indonesia juga mengikuti Executive Dialogue bersama Huawei. Pembahasan mencakup sejumlah isu penting dalam penguatan ekosistem keamanan siber, antara lain tata kelola keamanan siber, pengembangan National-CSIRT dan CSIRT sektoral, pelindungan data pribadi, serta mekanisme berbagi intelijen ancaman atau threat sharing.
Pertukaran informasi mengenai ancaman siber dinilai menjadi salah satu komponen penting dalam membangun sistem pertahanan digital yang lebih tangguh. Dengan berbagi informasi secara tepat dan bertanggung jawab, berbagai pihak dapat meningkatkan kemampuan dalam mendeteksi serta merespons potensi ancaman secara lebih cepat.
Kolaborasi Lintas Negara Jadi Kunci
Perkembangan teknologi telekomunikasi yang semakin kompleks juga diikuti dengan meningkatnya potensi risiko keamanan. Infrastruktur digital yang saling terhubung membuat ancaman siber dapat melintasi batas negara dan berdampak terhadap berbagai sektor sekaligus.
Karena itu, kolaborasi lintas negara dan lintas sektor menjadi semakin penting.
Forum GSMA APAC Telecom Cybersecurity 2026 menjadi salah satu ruang untuk memperkuat pertukaran pengetahuan, pengalaman, serta praktik terbaik di antara para pemangku kepentingan keamanan siber kawasan Asia Pasifik.
Kerja sama tersebut diharapkan dapat membantu industri telekomunikasi meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai bentuk serangan siber yang terus berkembang.
BSSN Dorong Ekosistem Digital yang Aman
Keikutsertaan Indonesia dalam forum keamanan siber regional tersebut sejalan dengan upaya BSSN dalam memperkuat ketahanan ruang siber nasional.
Perkembangan ancaman digital yang semakin cerdas dan sulit diprediksi membutuhkan kesiapsiagaan yang tidak hanya bertumpu pada kemampuan teknologi, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia, tata kelola, dan kerja sama antarlembaga.
Kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan mitra internasional menjadi fondasi penting untuk membangun ekosistem digital yang aman dan tepercaya.
Di tengah perkembangan AI dan Agentic AI, Indonesia perlu memastikan bahwa inovasi teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas dan pelayanan publik tanpa mengabaikan aspek keamanan, privasi, serta perlindungan terhadap masyarakat.
Melalui penguatan kerja sama regional dan pertukaran intelijen ancaman, Indonesia diharapkan semakin siap menghadapi perubahan lanskap keamanan siber global.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari agenda membangun ruang digital nasional yang lebih tangguh, aman, andal, dan mampu mendukung transformasi digital secara berkelanjutan.
