Kementan Tegaskan Peternak Rakyat Jadi Prioritas Utama Industri Ayam Nasional

0
1778668674892

RAKYAT CERDAS — Kementerian Pertanian Republik Indonesia menegaskan peternak rakyat tetap menjadi prioritas utama dalam pengembangan industri perunggasan nasional di tengah dinamika harga dan meningkatnya perhatian terhadap investasi sektor unggas di Indonesia.
Pemerintah memastikan setiap investasi yang masuk ke sektor perunggasan harus memberikan manfaat nyata bagi peternak dalam negeri, memperkuat produksi nasional, menciptakan lapangan kerja, serta menjaga ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, mengatakan pembangunan subsektor peternakan harus dilakukan secara terukur melalui penguatan ekosistem nasional berbasis kemitraan yang melibatkan peternak rakyat, koperasi, pelaku usaha lokal, hingga BUMN pangan.
“Ekosistem perunggasan nasional harus dibangun secara berkeadilan. Arahan Menteri Pertanian jelas, penguatan dilakukan melalui ekosistem nasional yang melibatkan BUMN, peternak rakyat, koperasi, dan mitra lokal,” ujar Agung di Jakarta, Sabtu (9/5/2026).

Menurutnya, pemerintah tetap membuka ruang investasi, namun investasi tersebut harus memperkuat struktur industri nasional dari hulu hingga hilir tanpa mengorbankan keberlangsungan peternak rakyat sebagai tulang punggung produksi pangan nasional.
“Kita ingin industri ini tumbuh sehat. Karena itu pemerintah mendorong model kemitraan yang melibatkan pelaku lokal, peternak rakyat, dan BUMN sebagai bagian dari penguatan rantai pasok nasional,” katanya.

Agung juga menegaskan arahan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, sangat jelas bahwa investasi tidak boleh membuat peternak rakyat tersisih di negaranya sendiri.
“Menteri Pertanian sudah berkali-kali mengingatkan bahwa investasi harus melibatkan mitra lokal. Investasi harus memberikan ruang tumbuh bagi peternak nasional, bukan justru memperlebar ketimpangan di dalam negeri,” tegasnya.
Saat ini pemerintah terus memperkuat model hilirisasi ayam terintegrasi berbasis kemitraan nasional, mulai dari pembibitan, pakan, pengolahan, distribusi, hingga penyerapan produk protein hewani. Dalam skema tersebut, peternak rakyat ditempatkan sebagai bagian utama rantai produksi nasional.

Pemerintah juga memperkuat peran BUMN sektor pangan untuk membantu penyerapan hasil produksi peternak, menjaga stabilisasi harga, dan memperkuat distribusi agar industri perunggasan nasional berjalan lebih sehat dan berimbang.
Di sisi lain, Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance, Tauhid Ahmad, menilai penguatan industri unggas nasional sangat penting untuk mendukung program strategis pemerintah seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurut Tauhid, sektor peternakan unggas nasional sebenarnya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri tanpa harus terlalu bergantung pada pihak luar.
“Kalau kesempatan besar ini diberikan kepada investor asing untuk urusan yang sebenarnya bisa kita lakukan sendiri, maka nilai tambah ekonominya akan banyak keluar,” ujarnya.
Ia mengingatkan ketergantungan terhadap pihak luar berpotensi meningkatkan impor dan memberi tekanan terhadap perdagangan nasional serta devisa negara.

Pandangan serupa disampaikan Guru Besar Sosial Ekonomi Peternakan Universitas Gadjah Mada, Prof. Budi Guntoro, yang menilai penguatan peternakan rakyat harus menjadi prioritas utama di tengah kondisi surplus produksi telur nasional.
“Indonesia tidak sedang kekurangan telur, melainkan menghadapi surplus yang bersifat struktural,” kata Prof. Budi.
Menurutnya, persoalan utama subsektor ayam petelur saat ini bukan kekurangan produksi, melainkan lemahnya distribusi, pasar, dan posisi tawar peternak rakyat.

Karena itu, penguatan koperasi, kemitraan nasional, serta perlindungan terhadap peternak mandiri dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus memperkuat ekonomi rakyat.
Kementerian Pertanian memastikan penguatan ekosistem perunggasan nasional akan terus diarahkan pada peningkatan produksi dalam negeri, hilirisasi industri, penguatan kemitraan usaha, serta perlindungan peternak rakyat agar subsektor peternakan Indonesia semakin modern, kuat, dan berdaya saing global.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *