KTT ASEAN ke-59 Dibuka di Manila, Tiga Isu Panas Dominasi Agenda: Iran, Myanmar, dan Laut China Selatan
MANILA — Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-59 resmi dibuka di Manila, Filipina, pada 21 Juli 2026, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan berbagai persoalan keamanan yang berdampak langsung terhadap stabilitas kawasan Asia Tenggara.
Mengusung tema “Navigating Our Future, Together” atau “Bersama Menavigasi Masa Depan Kita”, rangkaian pertemuan ASEAN menjadi panggung diplomasi strategis yang mempertemukan negara-negara Asia Tenggara dengan sejumlah kekuatan besar dunia. Kehadiran para menteri luar negeri dari Amerika Serikat, China, Rusia, dan negara mitra lainnya semakin menegaskan posisi ASEAN sebagai salah satu forum penting dalam menjaga komunikasi dan stabilitas regional.
Tiga isu utama menjadi perhatian dalam agenda diplomasi tersebut, yakni eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, krisis berkepanjangan di Myanmar, serta ketegangan di Laut China Selatan.
Konflik Iran Bayangi Ketahanan Energi ASEAN
Eskalasi permusuhan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu isu yang membayangi pertemuan ASEAN. Negara-negara anggota ASEAN menyampaikan keprihatinan terhadap meningkatnya ketegangan dan potensi dampaknya terhadap keamanan energi serta rantai pasok kawasan.
Para menteri luar negeri ASEAN menyerukan penghentian permusuhan di Timur Tengah sekaligus mendorong terjaminnya navigasi yang aman dan bebas di Selat Hormuz.
Jalur strategis tersebut memiliki arti penting bagi perekonomian Asia karena menjadi salah satu jalur utama perdagangan energi global. Gangguan terhadap lalu lintas pelayaran di kawasan itu berpotensi meningkatkan harga minyak dan energi, yang pada akhirnya dapat memberikan tekanan terhadap perekonomian negara-negara ASEAN.
Menteri Luar Negeri Filipina Ma. Theresa Lazaro menekankan pentingnya mengantisipasi dampak konflik terhadap ketahanan energi dan pangan. Kekhawatiran tersebut menjadi semakin relevan bagi Filipina yang sebelumnya menghadapi tekanan energi akibat konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Krisis Myanmar Tetap Menjadi Tantangan ASEAN
Selain konflik Timur Tengah, krisis Myanmar yang berlangsung sejak kudeta militer 2021 kembali menjadi perhatian utama ASEAN.
Blok Asia Tenggara tersebut terus berupaya menghidupkan kembali proses diplomasi dan konsensus perdamaian yang selama ini mengalami kebuntuan. ASEAN mendorong keterlibatan seluruh pihak terkait agar penyelesaian konflik dapat dilakukan melalui proses dialog yang inklusif.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono menekankan pentingnya ASEAN untuk tetap terlibat aktif dalam upaya mencari solusi bagi krisis Myanmar. Stabilitas Myanmar dinilai memiliki keterkaitan erat dengan keamanan kawasan secara keseluruhan.
Pembahasan khusus mengenai Myanmar menjadi bagian dari rangkaian pertemuan di Manila. ASEAN berharap proses diplomasi dapat membuka ruang bagi penyelesaian konflik yang telah menyebabkan korban jiwa dan mendorong perpindahan jutaan warga.
Laut China Selatan dan Upaya Mencegah Konflik Terbuka
Ketegangan di Laut China Selatan juga menjadi agenda penting dalam pertemuan ASEAN ke-59. Sengketa wilayah dan insiden antara China dengan Filipina menjadi bagian dari dinamika keamanan yang terus mendapat perhatian negara-negara kawasan.
ASEAN bersama China terus berupaya menyelesaikan negosiasi Code of Conduct (COC) di Laut China Selatan. Kode etik tersebut diharapkan dapat menjadi instrumen untuk mencegah sengketa teritorial berkembang menjadi konflik terbuka.
Dalam pembahasan tersebut, kebebasan navigasi dan penerbangan serta penghormatan terhadap hukum internasional menjadi prinsip penting yang terus ditekankan. ASEAN juga menegaskan relevansi Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982 sebagai kerangka hukum internasional dalam menyelesaikan persoalan maritim.
Sengketa Laut China Selatan sendiri melibatkan klaim yang tumpang tindih antara China dan sejumlah negara ASEAN, termasuk Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Kondisi tersebut membuat diplomasi dan dialog menjadi instrumen penting untuk menjaga stabilitas kawasan.
Kehadiran AS, China, dan Rusia Tegaskan Posisi Strategis ASEAN
Rangkaian pertemuan ASEAN di Manila pada 21–24 Juli turut dihadiri Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Menteri Luar Negeri China Wang Yi, dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.
Kehadiran para diplomat utama dari kekuatan besar dunia tersebut memperlihatkan bahwa ASEAN tetap memiliki posisi strategis sebagai ruang dialog di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik global.
Dalam rangkaian pertemuan itu, ASEAN juga menyetujui Türkiye sebagai mitra dialog ke-12. Langkah tersebut memperluas jaringan kerja sama ASEAN sekaligus menunjukkan semakin besarnya perhatian negara-negara di luar Asia Tenggara terhadap peran ASEAN di tingkat global.
Sementara itu, proses integrasi Timor-Leste ke dalam ASEAN juga terus menjadi perhatian. Penguatan integrasi tersebut dipandang sebagai bagian dari upaya membangun komunitas ASEAN yang lebih inklusif dan mencakup seluruh negara di kawasan Asia Tenggara.
ASEAN Didorong Tetap Bersatu di Tengah Geopolitik Global
Di tengah fragmentasi geopolitik dunia yang semakin tajam, persatuan ASEAN menjadi semakin penting. Negara-negara anggota dituntut untuk memperkuat solidaritas sekaligus mempertahankan prinsip dialog dalam menghadapi berbagai tekanan global dan regional.
KTT ASEAN ke-59 di Manila diharapkan menghasilkan langkah-langkah konkret untuk memperkuat kerja sama regional, menjaga stabilitas keamanan, serta meningkatkan ketahanan kawasan menghadapi berbagai krisis.
Dengan mengedepankan diplomasi, dialog, dan kepentingan bersama, ASEAN berupaya menavigasi masa depan yang penuh ketidakpastian. Tantangan yang dihadapi tidak ringan, tetapi kekuatan komunitas ASEAN terletak pada kemampuannya untuk tetap bekerja sama demi mewujudkan Asia Tenggara yang damai, stabil, dan sejahtera.
