Perjalanan Dakwah Rhoma Irama: Ketika Musik Menjadi Jalan Syiar Islam
JAKARTA – Perjalanan dakwah Raja Dangdut Rhoma Irama menjadi salah satu kisah penting dalam sejarah musik Indonesia. Di tengah pandangan bahwa dunia hiburan identik dengan gaya hidup bebas, Rhoma memilih jalan berbeda dengan menjadikan musik sebagai media syiar Islam yang sarat pesan moral dan spiritual.
Langkah besar itu dimulai pada 13 Oktober 1973 ketika Rhoma Irama mendeklarasikan konsep “Voice of Moslem” bersama Soneta Group. Melalui konsep tersebut, ia ingin membuktikan bahwa seni dan agama bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Musik justru dapat menjadi sarana efektif untuk menyampaikan nilai-nilai keislaman, akhlak, serta ajakan kepada kebaikan.
Keputusan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Pada masa awal dakwahnya, Rhoma menghadapi berbagai penolakan dari sebagian masyarakat yang menganggap panggung musik bukan tempat menyampaikan ajaran agama. Dalam sejumlah kesempatan, ia mengaku pernah dilempari sandal dan lumpur hanya karena membuka penampilannya dengan ucapan salam. Bahkan, perjalanan kariernya sempat diwarnai pencekalan di sejumlah media.
Meski demikian, Rhoma tetap konsisten. Ia memilih menjawab kritik melalui karya-karya yang menyentuh kehidupan masyarakat. Lagu-lagu seperti “Judi”, “Keramat”, “Mirasantika”, “Begadang”, hingga “135 Juta” tidak hanya populer sebagai hiburan, tetapi juga membawa pesan tentang moral, penghormatan kepada orang tua, bahaya perjudian, minuman keras, serta pentingnya persatuan bangsa.
Selain melalui musik, Rhoma juga menyampaikan nilai-nilai dakwah lewat dunia perfilman. Film-film yang dibintanginya memadukan hiburan dengan pesan religius dan sosial, memperluas jangkauan dakwah kepada masyarakat dari berbagai kalangan.
Selama lebih dari lima dekade, Rhoma Irama mempertahankan konsistensinya menjadikan seni sebagai media syiar Islam. Di tengah berbagai kritik dan tudingan bahwa agama dijadikan komoditas hiburan, ia tetap berpegang pada keyakinannya bahwa musik dapat menjadi sarana mengajak manusia kepada kebaikan apabila digunakan dengan niat dan tujuan yang benar.
Perjalanan Rhoma Irama menunjukkan bahwa dakwah dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, termasuk seni dan budaya. Kiprahnya menjadi salah satu contoh bagaimana musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga mampu menjadi media edukasi, pembentukan karakter, dan penyebaran nilai-nilai moral yang terus dikenang hingga kini.
