Kapal Gamsunoro Berhasil Lintasi Selat Hormuz Setelah Tertahan Empat Bulan, Sinergi PIS dan Kemlu Jaga Ketahanan Energi Nasional
JAKARTA – Kapal tanker Gamsunoro milik PT Pertamina International Shipping (PIS) akhirnya berhasil melintasi Selat Hormuz pada Rabu (24/6/2026) setelah sempat tertahan hampir empat bulan akibat meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Teluk.
Keberhasilan pelayaran tersebut menjadi kabar positif bagi ketahanan energi nasional sekaligus menunjukkan efektivitas koordinasi antara Pertamina International Shipping, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, serta perwakilan diplomatik Indonesia dalam menghadapi dinamika geopolitik internasional.
Berdasarkan keterangan resmi perusahaan, Gamsunoro memulai pelayaran dari kawasan Teluk Arab pada pukul 01.06 waktu Dubai dan menempuh perjalanan selama sekitar 16 jam hingga berhasil melewati titik kritis Selat Hormuz pada pukul 20.00 WIB.
Selama proses pelayaran, kapal dikawal melalui sistem pemantauan selama 24 jam penuh oleh pusat krisis (crisis center) PIS yang terus berkoordinasi dengan awak kapal untuk memastikan seluruh prosedur keselamatan berjalan sesuai standar.
Pelaksana Tugas Corporate Secretary PT Pertamina International Shipping, Vega Pita, menjelaskan bahwa keputusan memberangkatkan Gamsunoro tidak dilakukan secara terburu-buru. Perusahaan terlebih dahulu melaksanakan evaluasi risiko secara menyeluruh selama hampir satu bulan.
Penilaian tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari keamanan jalur pelayaran, kesiapan teknis kapal, perlindungan asuransi, kondisi operasional, hingga kesiapan seluruh awak kapal menghadapi potensi risiko di kawasan konflik.
Selain itu, PIS juga melakukan koordinasi intensif bersama Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia serta Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran guna memperoleh perkembangan situasi keamanan terkini sebelum pelayaran dilaksanakan.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama perusahaan di tengah situasi keamanan yang belum sepenuhnya stabil.
Menurutnya, setiap keputusan operasional selalu didasarkan pada prinsip mitigasi risiko serta perlindungan terhadap aset strategis nasional.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak global melintasi selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut. Gangguan sekecil apa pun di kawasan ini berpotensi memengaruhi pasokan energi dunia sekaligus mendorong kenaikan harga minyak internasional.
Keberhasilan Gamsunoro melintasi Selat Hormuz terjadi di tengah kondisi keamanan kawasan yang masih berfluktuasi. Meskipun Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati langkah deeskalasi konflik melalui nota kesepahaman pada pertengahan Juni 2026, sejumlah insiden keamanan di sekitar jalur pelayaran masih terus terjadi.
Situasi tersebut membuat perusahaan pelayaran internasional tetap menerapkan tingkat kewaspadaan tinggi terhadap seluruh armada yang beroperasi di kawasan Teluk.
Sementara itu, PIS masih terus memantau kondisi kapal VLCC Pertamina Pride yang hingga kini masih berada di kawasan Teluk Arab. Perusahaan menyatakan keberangkatan kapal tersebut akan dilakukan setelah seluruh aspek keamanan dinilai memenuhi standar dan rekomendasi internasional.
Keberhasilan Gamsunoro melewati Selat Hormuz dinilai menjadi contoh penting mengenai perlunya sinergi antara dunia usaha, diplomasi pemerintah, dan manajemen risiko dalam menjaga kelancaran distribusi energi nasional.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, keberhasilan tersebut juga memperlihatkan pentingnya strategi ketahanan energi nasional agar pasokan bahan bakar tetap terjaga serta mampu menghadapi berbagai tantangan di jalur perdagangan internasional.
