Kesepakatan Trilateral Lebanon–Israel–AS Ditandatangani, Washington Kucurkan Bantuan Kemanusiaan Rp1,6 Triliun
WASHINGTON – Amerika Serikat, Lebanon, dan Israel resmi menandatangani kesepakatan kerangka kerja trilateral di Washington, Jumat (26/6/2026), sebagai langkah strategis untuk meredakan konflik berkepanjangan di perbatasan Lebanon-Israel serta membuka jalan menuju stabilitas kawasan Timur Tengah.
Penandatanganan dilakukan di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat oleh Duta Besar Lebanon untuk AS Nada Moawad dan Duta Besar Israel untuk AS Yechiel Leiter, dengan disaksikan langsung Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio.
Kesepakatan tersebut menjadi hasil dari putaran kelima perundingan intensif yang berlangsung selama empat hari di Washington dan dipandang sebagai salah satu perkembangan diplomatik paling signifikan dalam konflik Lebanon-Israel dalam beberapa tahun terakhir.
Konflik yang kembali memanas sejak 2 Maret 2026 telah menimbulkan dampak kemanusiaan yang besar. Ribuan orang dilaporkan tewas, sementara lebih dari satu juta warga Lebanon terpaksa mengungsi akibat serangan lintas perbatasan yang terus berlangsung.
Dalam kesepakatan tersebut, para pihak menyepakati sejumlah langkah strategis untuk menurunkan eskalasi konflik, di antaranya penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah selatan Lebanon seiring pengambilalihan pengamanan oleh Tentara Lebanon (Lebanese Armed Forces/LAF).
Selain itu, kerangka kerja tersebut juga memuat komitmen untuk melucuti kelompok-kelompok bersenjata non-negara, termasuk pembongkaran infrastruktur militer yang dianggap mengancam stabilitas kawasan.
Sebagai bagian dari mekanisme implementasi, dibentuk Military Coordination Group for Lebanon (MCG4L) yang difasilitasi Amerika Serikat untuk memantau pelaksanaan seluruh poin kesepakatan serta mengawasi proses transisi keamanan di lapangan.
Dua wilayah percontohan juga telah ditetapkan sebagai tahap awal implementasi pengalihan kendali keamanan sebelum diperluas ke kawasan lain.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut penandatanganan tersebut sebagai langkah awal menuju perdamaian yang lebih permanen.
“Ini adalah awal dari awal menuju perdamaian yang berkelanjutan,” ujar Rubio.
Sebagai bentuk dukungan terhadap implementasi kesepakatan, Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan bantuan kemanusiaan senilai 100 juta dolar AS atau sekitar Rp1,6 triliun, disertai tambahan dukungan lebih dari 30 juta dolar AS untuk memperkuat kapasitas Tentara Lebanon dalam menjaga stabilitas keamanan nasional.
Presiden Lebanon Joseph Aoun menyambut baik kesepakatan tersebut dan menyebutnya sebagai momentum penting bagi pemulihan kedaulatan negara serta percepatan rekonstruksi pascakonflik.
Sementara itu, Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat Yechiel Leiter menyatakan optimistis kesepakatan tersebut membuka peluang baru bagi hubungan kedua negara.
Namun demikian, tidak semua pihak menerima hasil perundingan tersebut. Hizbullah secara terbuka menolak isi kesepakatan dan menyebutnya sebagai bentuk penyerahan terhadap kepentingan Israel.
Penolakan tersebut diperkirakan menjadi tantangan utama dalam proses implementasi di lapangan, mengingat kelompok itu masih memiliki pengaruh signifikan di sejumlah wilayah Lebanon.
Para pengamat menilai keberhasilan kesepakatan ini akan sangat bergantung pada komitmen seluruh pihak dalam menjalankan setiap butir perjanjian, termasuk penarikan pasukan, penguatan institusi keamanan Lebanon, serta terciptanya mekanisme pengawasan yang efektif.
Di tengah kompleksitas geopolitik Timur Tengah, kesepakatan trilateral ini memberikan harapan baru bahwa jalur diplomasi masih menjadi instrumen utama untuk meredakan konflik bersenjata dan mendorong terciptanya stabilitas regional yang lebih berkelanjutan.
